Pembuatan tambak dan aktivitas warga di Kuala Lupak, Tabunganen, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan, mengusik bekantan (Nasalis larvatus) di wilayah itu. Akibatnya, bekantan keluar dari kawasan konservasi untuk mencari makan.
Menurut Kepala Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalsel Bambang Dahono Adji saat dihubungi, Senin (23/8), warga masuk ke kawasan itu 5-10 tahun terakhir. Kini, luas tambak diperkirakan mencapai 60 persen dari luas kawasan 3.400 hektar.
Tambak telah merusak pohon bakau dan rambai yang menjadi makanan favorit primata Kalsel tersebut.
”Bekantan menjadi sering keluar ke perkebunan warga. Kami tengah berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk mengatasi,” kata Bambang.
Populasi bekantan di Kuala Lupak diperkirakan lebih dari 100 ekor. Bambang belum bisa memastikan jumlahnya karena perlu biaya besar untuk menghitung. Bekantan juga banyak menghuni kawasan konservasi seperti Pulau Kaget, Pulau Bakut, dan Pulau Kembang di tengah Sungai Barito.
Ditemui terpisah, pemerhati bekantan di Banjarmasin, Akhmad Arifin, meminta BKSDA tak hanya menjaga bekantan yang masih berada di Kalsel, tetapi juga yang dikirim ke luar daerah, terutama Kebun Binatang Surabaya (KBS) yang telah dibekukan izinnya. KBS, kata Akhmad, pernah menerima 61 ekor bekantan dari Kalsel. Sebanyak 37 ekor bekantan mati dalam dua bulan pertama masa adaptasi.
Akhmad Arifin, yang pernah mengajukan gugatan class action bersama Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Adat tahun 1999 atas kasus pengiriman bekantan ke KBS, meragukan keberadaan KBS sebagai lembaga konservasi.
”Dasarnya adalah catatan buruk yang terjadi 11 tahun lalu. Bagaimana pemeliharaan bekantan itu kok bisa banyak yang mati,” katanya.
Karena itu, Akhmad berharap pemerintah daerah bisa meminta penjelasan dari KBS tentang nasib sisa bekantan yang masih hidup.
Melalui gugatan class action terhadap Departemen Kehutanan dan Perkebunan, BKSDA Kalsel, KBS, dan Dinas Kehutanan Kalsel, tahun 1999, dari 24 ekor bekantan yang masih hidup di KBS, lima ekor di antaranya dikembalikan ke Kalsel