Lompat ke konten

Biologi Ilmu Alam

Tindakan Preventif Diperlukan Untuk Atasi Perkembangbiakan Rayap

    Seorang peneliti dari Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura Pontianak, Kalimantan Barat, Dr Farah Diba, mengingatkan masyarakat daerah tersebut untuk melakukan tindakan preventif dalam mengatasi perkembangbiakan dan serangan rayap saat musim hujan. “Pontianak merupakan daerah yang rawan. Memiliki tanah yang cocok untuk perkembangbiakan rayap,” kata Peneliti Rayap dari Fakultas Kehutanan Untan, Farah Diba, di Pontianak, Kamis. Berkaitan itu, dosen Fakultas Kehutanan tersebut mengingatkan agar masyarakat melakukan tindakan pencegahan terhadap serangan hewan itu. Tindakan preventif semisal inspeksi ke tempat menyimpanan buku-buku atau rak dan lemari pakaian, dan lain-lain, perlu dilakukan. Liang…

    Kodok Adalah Binatang Paling Rentan Terhadap Perubahan Cuaca dan Akan Punah Paling Awal

      Kodok adalah kelompok binatang yang sangat peka terhadap perubahan lingkungan, seperti polusi air, perusakan hutan, ataupun perubahan iklim. Karena kepekaan mereka, amfibi dapat dijadikan indikator perubahan lingkungan. Perubahan lingkungan yang dampaknya sangat nyata terhadap kodok jelas terlihat pada turunnya populasi disertai turunnya keragaman jenis. Pada saat ini ada lebih dari 6.000 jenis amfibi di dunia. Dari 6.000 jenis, 5.915 telah ditelaah statusnya oleh IUCN (International Union for Conservation and Natural Resources). Hasilnya, 1.893 dalam status terancam dan menuju kepunahan. Ancaman utama yang dihadapi kodok saat ini adalah hilangnya…

      Lebih Dari 1000 Spesies Baru Ditemukan Di Sungai Mekong Dari Laba-laba Sebesar Piring Hingga Luwing Naga

        Lebih dari 1000 spesies baru hewan dan tumbuh-tumbuhan ditemukan di daerah aliran Sungai Mekong Besar yang melintasi Kamboja, Laos, Myanmar, Thailand, Vietnam, dan China. Kehidupan liar yang sangat beragam dan belum tersentuh sebelumnya itu terungkap dalam ekspedisi selama satu dekade, dari 1997-2007, yang disponsori World Wildlife Foundation (WWF). Di antaranya terdapat laba-laba huntsman terbesar di dunia. Spesies Heteropoda dagmarae itu berukuran sebesar piring dengan bentang kaki 30 centimeter. Laba-laba tersebut dikenal agresif, berburu di malam hari, dan menyergap mangsanya dari ranting, dahan, dan batang bambu yang tingginya tak…

        Disepakati Penyusunan Deklarasi Wallacea Di Batas Garis Dua Dunia Yang Berbeda

          Konferensi internasional ”Alfred Russel Wallace and The Wallacea” ditutup di Makassar, Sabtu (13/12). Para peserta konferensi menyepakati penyusunan deklarasi pelestarian Wallacea, kawasan di sekitar garis maya Wallacea yang memisahkan dua wilayah fauna. Pelestarian Wallacea penting karena kawasan keanekaragaman hayatinya tinggi dan salah satu penentu perubahan iklim. Kesepakatan tercapai setelah delapan pleno diskusi menghadirkan 32 pembicara dari berbagai latar belakang keilmuan. Selama konferensi, keunggulan kawasan Wallacea didiskusikan dari perspektif sejarah, antropologi, biologi, biokimia, biogeografi, ekologi, evolusi, kelautan, dan perspektif keilmuan lainnya. Saat diskusi umum pembahasan materi deklarasi, Jatna Supriatna…

          Awas Rayap Panama Paling Berbahaya Karena Mampu Memakan Kayu Dengan Kecepatan 70 m Per Detik

            Meski tubuhnya kecil, rayap Panama (Termes panamensis) berhasil mencetak rekor gigitan paling cepat di antara semua hewan yang ada di dunia. Rahangnya sanggup menggigit mangsa dengan kecepatan hingga 70 centimeter perdetik. Bahkan, untuk merekam gerakan yang segitu cepat, para peneliti membutuhkan kamera dengan kemampuan merekam gambar 40.000 frame perdetik. Rayap Panama menggigit mangsa menggunakan sepasang capit di rahang yang secara ilmiah sering disebut mandible. “Banyak serangga yang bergerak lebih cepat daripada kemampuan mata manusia untuk melihat, jadi kami tahu kalau butuh kamera kecepatan tinggi untuk merekam perilakunya,” ujar…

            Cacing Medusa Dapat Hidup Dilumpur Panas Gunung Berapi

              Tidak hanya hidup di lumpur hangat yang ada di dasar laut, jenis cacing yang baru ditemukan ini juga memiliki “rambut api.” Tubuhnya tak hanya silinder memanjang umumnya cacing, melainkan di salah satu ujungnya terdapat banyak serabut berwarna merah yang bergerak bebas. Karenanya pantas kalau cacing temuan Ana Hilario dari Universitas Averio Portugal itu akan dinamai Medusa, untuk mengingatkan pada makhluk berambut ular dalam mitologi Yunani. Hilario menemukannya di endapan lumpur vulkanik di Teluk Cadiz, Spanyol yang berada di bagian barat daya Samudera Atlantik. Lumpur vulkanik yang muncul dari…

              Ghana Melakukan Inovasi Dengan Menebang Pohon Dalam Danau

                Ghana, yang belakangan hutannya tak lagi memiliki kayu untuk ditebang (luasnya menyusut hingga seperempat dari luas pada 1990), berencana beralih memburu kayu pohon-pohon mati dari dasar Danau Volta. Kayu-kayu gelondongan itu dinilai “eksotis” karena nilai ekspornya per tahun bisa mencapai US$ 100 juta. Danau Volta, satu di antara danau-danau buatan besar di dunia, memendam pepohonan itu pada 1964 demi sebuah proyek pembangkit listrik tenaga air. Kini, ketika pembangkit tersebut memberi “terang” kepada Ghana dan tetangganya, Togo dan Benin, kayu-kayu itu masih relatif utuh berkat cahaya dan kadar oksigen…

                5 Spesies Ikan Baru Ditemukan Di Terumbu Karang Nusa Penida

                  Para ahli dari Conservation International Indonesia menemukan lima spesies ikan baru di perairan sekitar Pulau Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, Bali. Kelima spesies itu adalah Chromis sp, Priolepis 33 sp, Priolepis 11 sp, Pseudochromis sp, dan Trimma sp. Penemuan ini memperkaya sekitar 550 spesies ikan karang yang telah teridentifikasi sebelumnya, termasuk spesies campuran dari Samudra Hindia dan Samudra Pasifik. Direktur Marine Program Conservation International Indonesia Ketut Sarjana Putra mengatakan, pihaknya yakin kelima ikan itu termasuk spesies baru. Namun, pihaknya tetap menghubungi museum internasional dan beberapa organisasi internasional untuk memastikan.…

                  Ikan purba Coelacanth Diburu dan Diperdagangan Oleh Nelayan Sulawesi

                    Ikan purba coelacanth (Latimeria manadoensis) yang hidup di sekitar perairan Sulawesi disinyalir diburu para nelayan untuk diperdagangkan. Ikan yang dilindungi tersebut, sebagian ada yang diserahkan ke Pemerintah Sulawesi Utara dengan meminta imbalan uang jutaan rupiah. Kepala Dinas Perikanan Sulawesi Utara Xandramaya Lalu di Manado, Rabu (3/12), mengatakan, beberapa nelayan yang menyerahkan ikan purba hasil tangkapan mereka meminta imbalan sampai Rp 10 juta per ekor. Pengamat ikan purba, Anthony Malinsang, mengatakan, ikan purba hidup pada kedalaman laut 150 meter hingga 1.000 meter. Berdasarkan data penelitian dengan menggunakan Remotely Operated…

                    Daftar Kodok Indonesia Yang Terancam Punah

                      Kodok masih dengan mudah kita temui di berbagai tempat di sekitar kita. Namun siapa sangka jika beberapa jenis hewan ampibi ini mulai langka di alam bebas, termasuk populasinya di Indonesia. Menurut peneliti kodok dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Hellen Kurniati, ancamana utama yang dihadapi kodok adalah hilangnya habitat, polusi lingkungan, pemanfaatan dan penyakit yang diakibatkan oleh jamur dan virus. “Kerusakan hutan di Pulau Jawa juga berdampak pada status jenis kodok yang terdapat di dalamnya, terutama jenis-jenis yang endemik, yang tidak terdapat di pulau lain,” ujarnya dalam siaran…

                      Kodok Unggaran Telah Punah dan Tidak Seorangpun Memiliki Spesimen Atau Fotonya Sejak Tahun 1930

                        Meski belum termasuk dalam daftar sebagai hewan yang telah punah, kodok ungaran (Philautus jacobsoni) hampir tidak dapat ditemukan lagi saat ini. Hal tersebut dikatakan Hellen Kurniati, peneliti kodok dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). “Bahkan sampel spesimennya juga kita tidak punya,” katanya di sela-sela training pengenalan amfibi di Museum Zoologicum Bogoriense, Cibinong, Bogor, Rabu (26/11). Satu-satunya sampel diambil tahun 1930-an dan disimpan di Museum Leiden, Belanda. Bagaimana warna asli tubuh kodok tersebut pun Hellen mengaku tidak pernah melihatnya karena warnanya pudar setelah diawetkan. Sejak lebih dari tujuh dekade…

                        Mari Belajar Dari Semut Agar Tidak Macet Saat Berkendaraan

                          Pernahkah Anda terpesona oleh kemampuan semut naik-turun merayapi jalan sempit tanpa pernah baku tabrak?. Tim ilmuwan dari Jerman mencari tahu bagaimana semut-semut itu bisa menghindari bertabrakan, dengan maksud agar lalu lintas gaya semut itu bisa diterapkan untuk lalu lintas jalan raya. Para ilmuwan itu membangun “rumah semut” istimewa yang dilengkapi dengan jalan, jembatan dan berbagai bentuk kota semut, kemudian melakukan pengamatan sistem lalu lintas serangga tersebut untuk dimasukkan dalam komputer. Dirk Helbing bersama tim dari Institut Teknologi Dresden itu merancang jalan bebas hambatan dengan dua arah dari sarang…