Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi menyepakati kerja sama pengembangan energi terbarukan bersama perusahaan internasional GE. Kerja sama itu di antaranya target memproduksi listrik dengan sumber energi angin yang mencapai 80 megawatt.
”Saat ini pelaksanaan kerja sama sudah disepakati selama tiga tahun. Kemungkinan nantinya terus diperpanjang,” kata Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Marzan Azis Iskandar, Rabu (29/9), dalam konferensi pers setelah penandatanganan nota kesepahaman dengan GE di Jakarta.
Marzan didampingi Direktur GE Power & Water Indonesia Gatot Prawiro dan President GE Energy Asia Pasific Kenji Uenishi. Menurut Marzan, realisasi anggaran untuk pengembangan energi terbarukan sekarang ini sedang diupayakan melalui program hibah bersaing dari lembaga keuangan Global Environment Facility (GEF).
Gatot Prawiro mengatakan, teknologi pembangkit listrik tenaga angin cukup efektif dengan didukung produksi turbin angin berkapasitas 1 megawatt hingga 1,5 megawatt. Lokasi yang diprioritaskan yaitu wilayah Indonesia bagian timur.
”Kerja sama juga mencakup peningkatan kualitas sumber energi batu bara dengan teknologi yang lebih bersih, yaitu dengan menghasilkan gas sintetis dari batu bara,” kata Gatot.
Menurut Gatot, GE telah mengukur potensi energi angin untuk pembangkit listrik di Indonesia. Melalui nota kesepahaman dengan BPPT, diharapkan menjadi pemercepat realisasinya yang ditargetkan mencapai 80 megawatt.
Perusahaan GE juga menjadi salah satu pelopor dalam pengembangan daur gasifikasi batu bara yang terintegrasi. Pengembangan teknologi itu menghasilkan gas batu bara, dikenal sebagai syngas atau gas sintetis batu bara.
Deputi Bidang Teknologi Informasi, Energi, dan Material BPPT Unggul Priyanto mengatakan, pengembangan energi terbarukan mutlak dilakukan. Saat ini potensi geotermal atau panas bumi menjadi energi terbarukan yang juga harus diprioritaskan.
Dari potensi 28.000 megawatt dari panas bumi yang ada di Indonesia, instalasi terpasang masih di bawah 4 persen, yaitu 1.118 megawatt. Menurut Unggul, geotermal paling menjanjikan. Selain itu, potensi energi matahari dengan sumber daya tak terbatas juga patut dikembangkan.