Para ilmuwan menemukan protein yang biasa ditemukan pada penderita Alzheimer di otak kucing liar. Penelitian yang dilakukan oleh para peneliti Jepang itu memberikan petunjuk baru terhadap proses penuaan kucing.
Temuan itu diperkirakan berkontribusi terhadap penelitian tentang bagaimana penyakit itu bekerja. Dalam studi yang dipublikasikan di jurnal ilmiah Plos One, para peneliti memeriksa bangkai 14 kucing Tsushima Leopard, spesies langka yang hidup di Pulau Tsushima, Jepang barat.
Jaringan otak dari lima kucing itu mengandung Neurofibrillary tangles (NFT), protein yang biasa ditemukan pada manusia penderita Alzheimer, tetapi jarang ditemukan pada hewan. Penelitian itu juga mendeteksi jejak AB42 peptida, yang diketahui menyebabkan kemunduran mental.
James Chambers, asisten profesor patologi hewan di Universitas Tokyo, mengatakan kepada Kyodo News: “Jika kita membandingkan perubahan dalam otak di antara beberapa binatang yang berbeda, kita mungkin dapat memberikan kontribusi pada penelitian mekanisme penyakit itu.”
Para peneliti Jepang mengatakan tidak ada cara untuk menentukan apakah kucing-kucing Tsushima itu menampakkan gejala mirip dementia (pikun) karena hewan-hewan itu tidak dipantau saat mereka masih hidup.
Mereka berharap melakukan penelitian serupa pada kucing rumah, yang dikenal menjadi rewel, lupa makanan mereka, berjalan miring, dan menampilkan perilaku penuaan lainnya.
Para ilmuwan telah lama menduga hewan menderita semacam dementia seperti manusia. Studi oleh University of California Davis mengungkapkan hampir sepertiga dari anjing berusia 11 hingga 12 tahun dan 68 persen, yang berusia 15 sampai 16 tahun, mengembangkan beberapa tanda penurunan kognitif.
Pada kucing, 28 persen usia antara 11 dan 14 tahun menunjukkan tanda-tanda demensia. Sama seperti manusia, dokter hewan mengatakan diet yang baik, stimulasi, dan persahabatan adalah kunci untuk membalikkan penurunan mental.