Lompat ke konten

Lingkungan Hidup

Pemanasan Global Ternyata Bukan Akibat Ulah Manusia dan Industri Tetapi Hanya Siklus Rutin Setiap 1500 Tahun Sekali

    Buku Unstoppable `Every 1,500 Years` Global Warming memesankan pemberontakan terhadap keyakinan dunia bahwa pemanasan global adalah ulah manusia dengan menyebut peristiwa cuaca itu sebagai fenomena alam biasa yang terjadi setiap 1.500 tahun. Sang pengarang, S. Fred Singer dan Dennis T. Avery, mengoleksi data kepustakaan yang melimpah dan menganalisisnya secara cermat laksana investigasi jurnalistik untuk menyerang asumsi, hipotesis, dan teori pemanasan global yang selama ini dipahami dunia. Sejak dari pengantar sampai kesimpulan, buku setebal 278 halaman (plus xxii) itu berisi “peperangan ilmiah” yang berpusat pada upaya menjawab satu pertanyaan…

    Racun Tikus Ramah Lingkungan Dapat Dibuat Dari 10 Macam Tumbuhan Asli Indonesia

      Tumbuh-tumbuhan tropis yang banyak hidup di Indonesia ternyata mengandung zat yang dapat dimanfaatkan sebagai racun tikus. Peneliti Universitas Andalas (Unand) Padang, Prof Dr HM Sanusi Ibrahim, menemukan zat tersebut pada sepuluh jenis tumbuhan tropis yakni daun gamal, daun kulit manis, daun juar, daun sicerek, daun inai, kulit buah jeruk, biji pinang sirih, akar pinang sirih, dan biji pinang sinawa. “Sumatera terletak pada garis khatulistiwa memiliki hutan tropis sebagai potensi yang luar biasa sebagai pabrik bahan kimia raksasa, sehingga cukup diminati peneliti untuk diteliti,” katanya di Padang, Kamis (29/5).…

      Es Benua Antratika Mencair Musim Panas 2020

        Benua Arktik akan semakin menipis esnya. Ini disebabkan pemanasan global. Hal yang sama juga diperkirakan akan pengaruhi Antartika. “Perkiraan jangka panjangnya tidak begitu optimistis,” kata ilmuwan atmosfir Jennifer Francis dari Rutgers University, Jumat (2/5) waktu setempat. Musim panas yang lalu, es di utara berkurang dengan kecepatan tertinggi yang pernah dicatat–yang diduga karena pemanasan global. Walaupun radiasi matahari dan gas ruang kaca di atmosfir di kutub sama dengan bagian bumi yang lain, sampai saat ini kawasan kutub merespon secara berbeda, kata pakar oseanografi James Overland dari National Oceanic and…

        Nyamuk Penyebab Demam Berdarah Mampu Hidup Di Air Kotor

          Nyamuk jenis Aedes aegypti dan Aedes albopictus, yang selama ini diketahui sebagai vektor atau penyebar virus demam berdarah (DBD), mungkin lebih kuat dari perkiraan selama ini. Penelitian menunjukkan nyamuk tersebut dapat terbang lebih jauh, aktif sampai malam, dan juga hidup di air kotor. “Kami sudah melakukan penelitian, Aedes aegypti bisa hidup di air kotor, tidak hanya air bersih seperti yang selama ini kita percayai,” ujar Dr. Upik Kesumawati Hadi, Kepala Bagian Parasitologi dan Entomologi Kesehatan Fakultas Kedokteran Institut Pertanian Bogor, saat seminar serangga di Cibinong Science Center, Bogor,…