Lompat ke konten

Misteri Unur dan Lemah Duwur Di Cibuaya dan Batujaya Karawang

BERPULUH tahun lamanya penduduk Cibuaya dan Batujaya, daerah yang letaknya di bagian utara Karawang, menganggap unur dan lemah duwur di daerahnya sebagai misteri. Sebagian ada yang beranggapan tempat itu bekas benteng pasukan Mataram yang akan menyerbu VOC di Batavia. Maklum, daerah utara Karawang pada abad 17 pernah dijadikan basis pertahanan Mataram sebelum menyerbu Batavia.

Tetapi sebagian lagi menghubungkan unur dan lemah duwur di daerahnya sebagai tempat angker. Unur Jiwa di Desa Segaran, Kecamatan Batujaya misalnya, pernah dikait-kaitkan dengan mistik. Ketika daerah itu dilanda banjir Citarum sebelum dibangun Waduk Ir Djuanda di Jatiluhur misalnya, Unur Jiwa pernah dijadikan kandang ternak kambing milik penduduk karena daerah itu letaknya lebih tinggi 2-3 meter di atas permukaan tanah sekitarnya.

“Tetapi sore dimasukkan kandang, paginya selalu ada yang mati,” cerita penduduk setempat. Karena itu, tanah yang lebih tinggi di daerah itu lalu dinamakan Unur Jiwa.

Unur dan lemah duwur adalah timbunan tanah setinggi 2-3 meter di atas permukaan tanah sekitar sehingga menyerupai bukit kecil. Di dua daerah itu ada lebih 20 unur dan lemah duwur dengan latar belakang kepercayaan penduduk setempat yang bervariasi. Padahal, Unur Jiwa yang selama ini dihubung-hubungkan dengan mistik, sebenarnya tidak berbeda dengan unur-unur lain yang ada di daerah itu, atau lemah duwur di Cibuaya. Kedua-nya merupakan peninggalan budaya masa lampau berupa candi yang tergolong sangat langka di Jabar. Kecuali Candi Cangkuang di Leles, Kabupaten Garut yang sudah dipugar, peninggalan lainnya adalah reruntuhan Candi Ronggeng di Pamarican, Kabupaten Ciamis bagian selatan.

Namun berbeda dengan Candi Ronggeng yang merupakan sisa-sisa reruntuhan candi batu, sisa-sisa reruntuhan candi di Batujaya dan Cibuaya merupakan candi bata. Bahannya bukan dari batu andesit seperti candi-candi di Jateng atau Jatim, tetapi bata merah sebagaimana bahan bangunan yang digunakan untuk membangun rumah. Sisa-sisa percandian bata di dua daerah itu letaknya sekitar lima km dari pantai utara Laut Jawa.

***

CIBUAYA dan Batujaya terletak sekitar 40 km utara Karawang. Jika ditarik garis lurus, kedua daerah itu berjarak sekitar 15 km. Cibuaya ada di Kecamatan Pedes, daerah yang tidak dilalui sungai besar. Sedangkan Batujaya letaknya berdekatan dengan Sungai Citarum yang jadi batas alam Kabupaten Karawang dengan Kabupaten Bekasi.

Sisa-sisa candi bata di Cibuaya pertama kali diketahui Dinas Purbakala tahun 1952. Saat itu ditemukan arca Wisnu dalam penggalian sumur penduduk setempat yang letaknya tidak jauh dari sisa-sisa candi bata. Penemuan itu disusul penemuan arca Wisnu lainnya yang kemudian dinamakan arca Wisnu II (1957) lalu penemuan fragmen arca Wisnu III (1975).

Penggalian percobaan maupun penggalian penelitian di situs Lemah Duwur Wadon atau Candi Cibuaya I, dilakukan beberapa kali oleh Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional tahun 1975. Sembilan tahun kemudian (1984), Jurusan Arkeologi Universitas Indonesia (UI) mengadakan penggalian di situs Lemah Duwur Wa-don dan Lemah Duwur Lanang (Candi Cibuaya II). Lemah Duwur Lanang letaknya sekitar 750 meter dari Lemah Duwur Wadon.

Dari penggalian itu diketahui, Candi Cibuaya I diduga berbentuk bujur sangkar berukuran sekitar 5 x 5 meter dengan pintu tangga masuk menghadap ke timur. Sedangkan Candi Cibuaya II berbentuk bujur sangkar berukuran 9,6 x 9 meter. Candi terakhir ini menghadap ke arah timur laut dengan lebar tangga 2,2 meter.

Dalam sebuah Seminar Sejarah dan Budaya II tentang Galuh, Drs Hasan Djafar, staf pengajar Fakultas Sastra UI (FSUI) menyimpulkan, kompleks bangunan candi di daerah Cibuaya merupakan tinggalan budaya bercorak Hindu. Ia menunjuk lingga batu berukuran tinggi sekitar satu meter dan garis tengah sekitar 40 cm yang ada di bagian tengah sisa Candi Cibuaya II, selain tiga arca Wisnu yang ditemukan tidak jauh dari situs percandian.

***

SITUS candi bata di Kecamatan Batujaya ada di Desa Segaran dan Telagajaya, tersebar pada areal sekitar lima km2. Karena pemekaran wilayah, kedua desa itu kini masuk wilayah Kecamatan Pakisjaya.

Sejak 1985, situs di daerah ini sudah sering diteliti, baik melalui survai permukaan tanah, survai bawah tanah melalui geoelectric prospecting dan pemboran maupun melalui penggalian-penggalian arkeologi. Dalam penggalian Candi Segaran I yang dilakukan Jurusan Arkeologi UI (1985 dan 1986) diketahui denah bangunan candi berbentuk bujur sangkar berukuran 19 x 19 meter dan tinggi bangunan yang tersisa sekitar lima meter. Bagian atasnya tampak bata yang disusun melingkar memberi kesan bentuk stupa.

Sementara penggalian Candi Telagajaya V yang dilakukan Tim Penelitian Terpadu Sejarah Kerajaan Tarumanagara, Universitas Tarumanagara (Untar) berhasil mengetahui sebagian besar sisa kaki candi yang berbentuk bujur sangkar dengan ukuran 10 x 10 meter. Kaki bangunan candi memiliki dua tangga naik di sisi barat dan timur. Arah hadap bangunan menyudut sekitar 50 derajat terhadap arah utara-selatan. Seperti Candi Segaran I, bagian atas Candi Telagajaya V memiliki bentuk melingkar konsentrik yang menggunakan bata-bata lengkung berbagai ukuran sehingga menyerupai stupa.

Penggalian situs Candi Telagajaya VIII berhasil menampakkan sisa bagian candi yang berdenah empat persegi panjang ukuran 6,20 x 4,60 meter. Bangunannya menghadap ke arah timur, membentuk sudut 50 derajat arah utara selatan. Salah satu hal yang dianggap penting oleh Hasan Djafar adalah, candi ini memiliki sebuah sumuran ukuran 1,8 x 1,8 M yang terletak di tengah candi.

***

SITUS Batujaya pertama kali disebut dalam buku De Haan yang menyebutkan, pada tahun 1684 masih berupa rawa. Selain itu, daerah sekitarnya merupakan tambak yang membentang sejak Sungai Citarum sampai Ciparage. Tambak-tambak itu, kecuali tambak di Batujaya, telah disewakan oleh Tumenggung Panata Juda kepada orang-orang Cina.

Tahun 1691, rawa Batujaya dikuasai Tumenggung Wirabaya dan tahun 1706, Komando Belanda di Tanjungpura (lima kilometer barat Karawang) mengingatkan Wirabaya tentang janjinya membersihkan rawa-rawa di sekitar Batujaya untuk dijadikan sawah dan ditanami nila.

Peneliti bidang klasik Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, Drs PEJ Ferdinandus dalam Laporan Penelitian Arkeologi Situs Batujaya (1995) mengungkapkan, daerah Batujaya mulai diperhatikan tahun 1981 oleh Sumarah Adhiyatman. Tahun 1985, FSUI bekerja sama dengan Puslitarkenas meneliti situs Segaran dan menemukan sisa bangunan bata berbentuk bujur sangkar berukuran 19 x 19 meter dengan tinggi 4,7 meter dari permukaan sawah di sekitarnya. Pada bagian atas terdapat sejumlah bata yang disusun melingkar yang memberi petunjuk, kemungkinan di bagian atas bangunan terdapat stupa.

Tahun 1987, Budi Teguh Prasetyo yang sedang menyiapkan skripsi, melakukan penelitian mandiri di daerah ini. Namun situs-situs di daerah ini tetap saja menarik minat para arkeolog mengingat banyaknya hal-hal yang menarik. Antara lain karena struktur bangunan candi terbuat dari bata dengan jumlah cukup banyak.

Penelitian di daerah itu masih terus berlanjut sehingga pada tahun 1989, Ditlinbinjarah bekerja sama dengan Badan Koordinasi Survai dan Pemetaan Nasional, Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM) serta Universitas Tarumanegara (Untar) meneliti Unur Asem dan Telaga Jaya VIII. Tiga tahun kemudian, Mei 1992, Bidang Arkeometri Puslitarkenas meneliti lingkungan geologis, arkeologis, geomorfologis, hidrologis dan pengamatan terhadap aspek teknologi dan konservasi artefak yang ditemukan selama penelitian.

Bidang Arkeologi Klasik Puslitarkenas sendiri sudah dua kali melakukan penelitian (1993, 1995). Terakhir, penelitian dilakukan di Candi Segaran V dan diketahui, panjang sisi barat laut atau Unur Blandongan 21,6 meter, lebar penampil tangga naik 7,2 – 3,2 meter.

Ketua tim Drs PEJ Ferdinandus melaporkan, di antara sudut barat dan sudut timur Unur Blandongan ada penampil untuk tangga naik. Bagian penampil ini berukuran 7,2 meter pada bagian pangkal yang menempel sisi bangunan dan, 3,2 meter di bagian ujung tangga. Tangga naik terdiri sembilan anak tangga dengan ukuran lebar (lorong) tangga 1,85 meter di bagian atas dan 2,4 meter di bagian bawah.

Lantai anak tangga dibuat dari batu andesit, sedangkan bagian dalam dibuat dari bata. Pada bagian paling atas ada lantai ukuran 1,85 x 1,40 meter. Pada anak tangga kedelapan dari bawah, ditemukan bagian yang sengaja diisi batu pipisan. Batu itu dipangkas sedemikian rupa sehingga mendapatkan ukuran sesuai lebar anak tangga. Batu pipisan yang dibuat dari bahan andesit ini banyak ditemukan, baik di daerah Batujaya maupun Cibuaya.

Pada kaki bangunan sisi barat laut ditemukan hiasan pelipit kumuda, hiasan kerucut terpotong. Selain ditemukan sekitar 28 pecahan tembikar dan keramik, di antara reruntuhan bata ditemukan pecahan tanah liat halus dengan pembakaran tinggi yang bentuknya sudah tidak utuh lagi. Pecahan itu berbentuk hampir persegi dengan panjang yang tersisa 3 cm, lebar 4 cm dan tebal 0,8 cm. Pada salah satu permukaan pecahan ada relief buddha-mandala yang dibingkai lijst berbentuk tonjolan membulat di bagian tepinya. Pada bagian atas tergambar tiga arca Buddha Amitabha dalam sikap duduk bersila.

***

PENELITIAN terhadap unur dan lemah duwur di Batujaya dan Cibuaya boleh jadi masih akan terus dilakukan. Yang terakhir, Bagian Proyek Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Kepurbakalaan Jawa Barat, sejak April lalu memugar Candi Jiwa. Tetapi teka-teki tentang unur dan lemah duwur masih belum bisa terjawab.

Apalagi dihubungkan dengan masa lalu daerah itu. Daerah Batujaya bagian utara semula merupakan limpahan banjir Sungai Citarum karena morfologi daerahnya datar dengan ketinggian sekitar 4 meter di atas permukaan laut. Anak Sungai Citarum yang mengalir dekat situs itu adalah Sungai Asin. Namun karena pendangkalan dan perluasan areal sawah, sungai itu mati secara alami.

Yang menjadi pertanyaan, di manakah lapisan budaya pada waktu candi-candi di daerah itu berfungsi. Sebab jika dilihat dari hasil penelitian Puslitarkenas tahun 1993, lapisan budaya bangunan Candi Blandongan ada pada kedalaman sekitar 1,5 meter di bawah permukaan tanah sekarang. Selain itu, di sekitar bangunan ditemukan petunjuk semacam tanah endapan yang merupakan bekas parit.

Meski penelitian atas runtuhan bangunan dilakukan beberapa kali, namun pertanggalan situs belum bisa diketahui pasti. Dari hasil survai, baik oleh tim maupun perorangan, ditemukan pecahan keramik berbagai periode, dari keramik abad 3 sampai abad 20 M.

Penelitian arkeologi terhadap situs-situs di daerah ini masih akan membutuhkan waktu lama mengingat masih banyak yang tertimbun tanah.

2 tanggapan pada “Misteri Unur dan Lemah Duwur Di Cibuaya dan Batujaya Karawang”

    1. disisi lain kita sebagai orang indonesia khususnya yang bertempat tinggal di karawang sangat bangga, ternyata …….!

Komentar ditutup.