Sebuah film animasi yang bertujuan untuk mendorong perdebatan tentang munculnya fenomena semakin banyak wanita yang menginginkan ‘vagina sempurna’ telah diluncurkan.
Film yang diberi judul ‘Centrefold’ tersebut didanai oleh Wellcome Trust dan mengisahkan tentang tiga wanita yang mendiskusikan bagaimana prosedur labiaplasty, operasi peremajaan labia (bibir vagina) bagian dalam akan mempengaruhi kehidupan mereka.
Tahun lalu lebih dari 2.000 operasi labiaplasty telah disponsori oleh National Health Service (NHS) Inggris dan dalam lima tahun belakangan telah terjadi peningkatan permintaan hingga lima kali lipat.
Para pakar percaya bahwa jumlah totalnya cenderung lebih tinggi jika mempertimbangkan layanan operasi yang disediakan sektor swasta dimana sekali operasi akan menghabiskan biaya sebesar 3.000 poundsterling.
Meski permintaan terhadap operasi labiaplasty meningkat, namun NHS mengaku tak memiliki panduan khusus terkait ukuran dan bentuk normal organ reproduksi wanita tersebut.
Masalahnya, peneliti mengaku sedikit informasi yang diketahui tentang dampak jangka dari operasi tersebut, termasuk informasi tentang kekhawatiran kepada wanita yang tidak mendapatkan dukungan psikologis yang memadai sebelum menjalani operasi.
Oleh karena itu, Dr. Lih-Mei Liao, seorang psikolog konsultan klinis dari University College London Hospitals mengatakan bahwa wanita yang menginginkan labiaplasty membutuhkan lebih banyak kesempatan untuk mendiskusikan kekhawatirannya sebelum menjalani operasi tersebut.
“Kekhawatiran terhadap labia-nya merupakan sesuatu yang berkaitan dengan kondisi psikologis. Ketika seorang wanita mengaku khawatir dengan labia-nya, dokter bedah mungkin hanya mendengar kata ‘labia’ dan mengoperasinya, namun sebaliknya saya mendengar kata ‘khawatir’,” terang Liao.
“Sulit jika operasi semacam ini dikatakan sebagai solusi utama. Hal ini tentu akan membuat wanita yang akan menjalani operasi ini mengalami kesulitan psikologis untuk menghadapi apa yang sedang terjadi. Psikolog pun tak menilai operasi sebagai solusi yang jelas untuk mengatasi hal ini,” lanjutnya seperti dilansir dari newkerala, Kamis (26/7/2024).
Untuk menanggapi kekhawatiran semacam ini, British Association of Aesthetic Plastic Surgeons meminta pemindaian psikologis terhadap calon pasien berbagai bedah kecantikan. Dalam laporan terbarunya dikatakan bahwa pengecekan kondisi psikologis secara rutin hanya dilakukan oleh kurang dari 35 persen klinik bedah kecantikan di seluruh Inggris.
Dr. Liao percaya bahwa kecemasan atau ketidakpuasan wanita terkait bagian terpenting dalam hidupnya itu bisa jadi menunjukkan kekhawatirannya terhadap imej tubuhnya. “Operasi boleh saja dilakukan, tapi prosedur ini harus dilihat sebagai solusi ekstrim,” katanya.
Seorang konsultan ginekolog Dr. Sarah Creighton mengaku pernah menjumpai gadis berusia 11 tahun yang menginginkan prosedur operasi itu di kliniknya.
Creighton menemukan meski presentase wanita yang memang memiliki labia abnormal cukup kecil namun dalam sebagian besar kasus yang ada malah banyak wanita yang menginginkan labia berukuran normal, pungkasnya.
Vagina perlu dijaga kebersihan dan kesehatannya agar terhindar dari berbagai masalah kesehatan dan terciptanya kualitas kehidupan seksual yang baik. Anda perlu mengetahui masalah-masalah yang sering terjadi pada vagina dan cara mengatasinya.
Berikut 8 masalah yang sering terjadi pada vagina, seperti dilansir dari womenshealthmag, Kamis (7/6/2024) antara lain:
1. Infeksi ragi pada vagina
Ragi adalah jamur yang hidup di vagina dalam jumlah yang sedikit, tetapi akan menimbulkan infeksi jika jamur tersebut berkembang dalam jumlah yang berlebihan. Ketika Anda memakai celana dalam atau pakaian renang yang hanya berupa tali, akan menggesek vagina ketika Anda bergerak.
Gesekan tersebut akan menyebabkan luka kecil di kulit halus sekitar vulva dan klitoris yang akan menciptakan akses bagi mikroba. Jamur akan berkembang pada luka tersebut dan menyebabkan infeksi ragi.
Gunakan celana dalam dari bahan kain yang membuat vagina Anda dapat bernapas dan lebih kering, sehingga bakteri tidak dapat tumbuh dengan mudah.
2. Anda tidak mendapatkan menstruasi setelah minum pil KB
Hormon yang digunakan dalam pil KB dapat mengganggu kinerja alami tubuh seperti proses ovulasi dan menstruasi. Anda akan mendapatkan menstruasi lagi setelah beberapa waktu menghentikan penggunaan pil KB.
Tidak adanya periode menstruasi atau menstruasi yang tidak teratur dikenal dengan sebutan amenore. Jika Anda masih belum mendapatkan haid dalam waktu 3 bulan, hentikan pemakaian pil KB dan berkonsultasilah dengan dokter kandungan. Amenore dapat menjadi gejala dari masalah kesehatan lainnya.
3. Anda merasa ada benjolan kecil berisi cairan yang tumbuh di vagina
Hal ini disebabkan karena tersumbatnya kelenjar bartholin. Kelenjar bartholin berupa dua buah organ di bawah kulit vagina yang seukuran kacang yang berperan dalam proses lubrikasi vagina. Jika kelenjar ini tersumbat, sekresi cairan pelumas terjebak dan menyebabkan tumbuhnya benjolan kecil yang lembut, licin dan membengkak di dekat lubang vagina.
Bartholin yang tersumbat biasanya jinak dan tidak memerlukan pengobatan. Anda mungkin dapat mengatasinya dengan mandi air hangat selama 20 menit dua atau tiga kali sehari.
Jika benjolan menjadi menyakitkan atau ukurannya bertambah besar, dokter mungkin akan menyarankan untuk melakukan prosedur marsupialization. Prosedur ini termasuk pengeringan benjolan, kemudian menjahit dinding benjolan pada kulit luar untuk membuat saluran baru. Pengobatan dengan cara ini akan sembuh dalam waktu sekitar satu bulan.
4. Vagina yang kering
Kekeringan vagina dapat disebabkan oleh banyak hal, termasuk dehidrasi, minum obat tertentu (antihistamin), perawatan yang salah, penipisan jaringan mukosa dan perubahan kadar hormon selama menopause. Vagina yang kering akan menyebabkan rasa nyeri ketika penetrasi.
Gunakan pelumas untuk mengatasi kekeringan pada vagina. Pilih pelumas berbahan dasar air karena lebih aman jika digunakan bersama dengan kondom.
Pelumas berbasis minyak dapat merusak integritas kondom. Hindari juga menggunakan pelumas yang berwarna, beraroma, dan memiliki rasa karena dapat memicu infeksi jamur dan akhirnya dapat memperburuk kekeringan.
5. Anda menularkan jamur pada vagina ke penis pasangan
Hal ini memang jarang terjadi, tetapi seorang pria dapat mengembangkan gejala kemerahan, gatal, atau rasa tidak nyaman setelah berhubungan seks tanpa kondom dengan pasangan yang terinfeksi.
Pria dapat berisiko jika tidak minum antibiotik, memiliki diabetes, sistem kekebalan tubuhnya terganggu atau jika pria tidak disunat. Kulit penis menciptakan lingkungan yang lembab dan kondusif untuk pertumbuhan jamur.
Obat anti jamur dapat digunakan untuk mengobati kondisi tersebut, tapi sebaiknya Anda menunda berhubungan seks sampai gejalanya benar-benar hilang. Dengan begitu, Anda akan mengurangi risiko saling menginfeksi satu sama lain.
6. Vagina yang sakit ketika berhubungan seks karena posisi rahim yang miring
Posisi seks tertentu bisa lebih menyakitkan daripada yang lain jika posisi rahim Anda dalam keadaan miring. Berkonsultasilah dengan dokter kandungan Anda untuk mengetahui apakah rahim Anda miring atau tidak.
Rahim yang terlalu miring akan lebih menyakitkan ketika Anda berhubungan seks. Posisi seks seperti wanita yang berada di atas, dapat mengurangi rasa tidak nyaman tersebut.
7. Ada rasa panas ketika buang air kecil setelah berhubungan intim
Ada beberapa hal yang menyebabkan sensasi panas ketika buang air kecil setelah berhubungan initim, seperti gesekan yang terlalu kuat pada vagina yang kering. Atasi dengan berendam dalam air hangat setelah berhubungan seks. Gunakan pelumas saat berhubungan seks untuk mencegah hal ini terjadi lagi.
Hal ini juga dapat disebabkan karena infeksi pada saluran kemih atau vagina. Periksakan kondisi Anda ke dokter, biasanya dokter akan meresepkan obat antibiotik. Anda dapat mencegah infeksi kandung kemih dengan buang air kecil sebelum dan setelah berhubungan seks.
8. Anda mencium bau amis dan merasa gatal pada vagina ketika berhubungan seks
Penyebabnya bisa jadi karena keseimbangan normal bakteri pada vagina terganggu karena peningkatan jumlah bakteri berbahaya. Bacterial vaginosis dapat dipicu karena gonta-ganti pasangan seks.
Gejala lain termasuk keputihan, gatal dan sensasi terbakar. Jika tidak diobati, bacterial vaginosis dapat menyebabkan masalah kesehatan yang serius seperti kelahiran prematur, infeksi postpartum, penyakit radang panggul, dan meningkatnya kerentanan terhadap infeksi HIV.
Sementara kondisi ini dapat diobati sendiri seperti perawatan dengan antibiotik metronidazole atau clindamycin. Wanita yang pernah mengalami kelahiran prematur atau bayi berat lahir rendah harus diperiksa untuk mengetahui apakah ada gejala bacterial vaginosis.
Untuk mengembalikan kemesraan dengan pasangan dan kehidupan seksualnya, orang-orang rela melakukan segala cara, bahkan meski harus merogoh kocek dalam-dalam. Salah satu metode untuk mengembalikan kenikmatan bercinta itu didapatkan dari vaginoplasty atau operasi vagina.
Vaginoplasty cepat populer di kalangan profesional wanita di Singapura, bahkan para wanita ini bersedia untuk menghabiskan biaya antara 10,000-60,000 Ringgit Malaysia (sekitar 29.500.000-177.000.000 Rupiah) untuk mendapatkannya.
Sin Chew Daily pun mengutip pernyataan seorang wanita bernama Ho (42) yang mengaku telah menjalani prosedur tersebut untuk menghidupkan kembali kehidupan seksnya. Operasinya sukses dan menurutnya hal itu telah membuka “dunia yang sepenuhnya baru” baginya.
Vaginoplasty merupakan operasi estetika untuk memperbaiki cacat dan kelainan serta mengembalikan kondisi vagina ke bentuk semula atau seperti perawan kembali. Operasi ini biasanya dilakukan para wanita yang telah melahirkan karena adanya kekhawatiran bahwa organ intimnya melebar, longgar dan kehilangan “daya cengkeramnya” sehingga saat berhubungan intim dengan suami pun jadi tak memuaskan lagi.
Ada pula labiaplasty yang paling umum dilakukan oleh para wanita untuk mengurangi ukuran lipatan kulit di sekitar vaginanya.
Sebelumnya, labiaplasty dilakukan oleh dokter kandungan tetapi belakangan banyak wanita yang lebih memilih pergi ke dokter bedah kosmetik karena operasi ini dilihat sebagai prosedur kosmetik.
“Sebagian besar pasien yang memilih melakukan prosedur ini merupakan kalangan profesional, baik lajang maupun menikah,” komentar ahli bedah kosmetik Dr. Chua Jun Jin seperti dilansir dari zeenews, Jumat (22/6/2024)
Dia juga mengatakan bahwa jumlah wanita yang menjalani labiaplasty di Amerika Serikat, Inggris dan Australia juga telah mengalami peningkatan selama 15 tahun terakhir.