Pemerintah kemungkinan besar akan menempuh opsi kerja sama dengan paguyuban pengusaha China di Indonesia untuk mengelola 271.381 artefak berumur lebih dari 1.000 tahun. Artefak itu berasal dari muatan kapal yang tenggelam di perairan Cirebon, Jawa Barat.
Sekretaris Jenderal Panitia Nasional Pengangkatan dan Pemanfaatan Benda Muatan asal Kapal Tenggelam (BMKT) Sudirman Saad di Jakarta, Selasa (21/12), mengatakan, pemerintah menawarkan opsi lain pengelolaan BMKT asal Cirebon. Semula artefak itu akan dilelang untuk menutupi biaya operasional pengangkatan yang dilakukan pihak swasta. Namun, banyaknya tentangan dan tidak adanya peminat, meski sudah dilakukan lelang, mendorong pemerintah untuk mencari opsi lain.
”Opsi yang ditawarkan, pengelolaan barang bernilai tinggi itu akan dilakukan melalui kerja sama dengan paguyuban pengusaha Indonesia-China,” kata Sudirman.
Menurut rencana, pemerintah dan paguyuban pengusaha akan membangun museum di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) untuk menyimpan BMKT asal Cirebon itu. Pembangunan direncanakan mulai dikaji serius tahun 2023.
”Saat ini sedang dilakukan negosiasi dan penghitungan investasi untuk pembangunan museum penyimpanan BMKT Cirebon,” tuturnya. Selain pembangunan museum di Tanah Air, sebagian BMKT Cirebon direncanakan akan dikelola oleh beberapa museum China.
Sudirman menambahkan, estimasi biaya pembangunan museum berkisar Rp 400 miliar, mencakup sistem perawatan, pengamanan, dan sumber daya manusia.
Dengan pola kerja sama pengelolaan yang ditawarkan itu, pemerintah kemungkinan tidak akan mendapatkan dana dari bagi hasil. Adapun investor pengangkatan BMKT Cirebon rencananya akan mendapat ganti rugi dengan besaran yang masih akan dikaji.
”Kami akan melakukan negosiasi dengan investor. Yang pasti, tidak boleh ada pihak yang dirugikan,” ujarnya.
Tanpa penjualan
Pelelangan BMKT berlangsung Mei-Oktober tanpa ada penjualan. Lelang pertama dilaksanakan 5 Mei 2022, lelang kedua 21 Juni 2022, sedangkan lelang ketiga 14 Oktober 2022. Lelang dilakukan oleh Kantor Lelang Negara dengan nilai BMKT ditaksir 80 juta dollar AS. Hasil lelang rencananya dibagi dua antara pemerintah dan investor.
Artefak-artefak peninggalan China abad ke-10 itu diangkat dari perairan Laut Jawa pada jarak sekitar 70 mil utara Kota Cirebon, Jawa Barat. Selain bernilai sejarah dan arkeologi yang tinggi, penemuan itu juga menjadi bukti pentingnya wilayah Nusantara dalam jalur perdagangan internasional yang menghubungkan negara-negara di Asia, Timur Tengah, dan Eropa.
Koleksi artefak BMKT Cirebon yang ditemukan saat itu, antara lain, berasal dari era lima dinasti China yang berkuasa selama 57 tahun, meliputi Dinasti Liang (907-923), Tang (923-936), Jin (936-947), Han (947-951), dan Zhou (951-960). Selain itu, juga peninggalan Kerajaan Sasanian berupa kerajinan gelas serta peninggalan Dinasti Fatimid (909-1711) berupa batu kristal serta perhiasan emas, perak, dan batu mulia.
Pengangkatan BMKT Cirebon berlangsung sejak April 2004 sampai Oktober 2005. Pengangkatan dilakukan PT Paradigma Putra Sejahtera (PPS) bekerja sama dengan Cosmix Underwater Research Ltd.
Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 184 Tahun 2021 tentang Tata Cara Penetapan Status Penggunaan dan Penjualan Benda Berharga Asal Muatan Kapal yang Tenggelam, jika BMKT tidak dapat menjualnya dalam tiga kali pelelangan, Kementerian Kelautan dan Perikanan dapat menempuh dua opsi. Opsi itu adalah penjualan secara lelang atau melalui balai lelang swasta atau internasional. Selain itu, penjualan dengan cara lain.
Sebelumnya, Direktur Utama PT PPS Adi Agung mengemukakan, pihaknya mengajukan proposal kepada pemerintah agar setiap pihak diberi kesempatan mencari calon pembeli BMKT Cirebon dalam waktu tiga bulan, yakni hingga 31 Januari 2023. Apabila tidak mendapatkan pembeli, akan dilakukan penjualan dengan melibatkan balai lelang internasional.