Doktor peneliti pada Institute of Genetics and Developmental Biologi Chinese Academy of Sciences, Hongli Zhai, mengungkapkan, meski berhasil mengembangkan varietas padi hibrida baru, Pemerintah China belum mengomersialkan.
Varietas padi hibrida generasi kedua atau disebut sebagai hibrida-transgenik (genetic modified organism/GMO) merupakan pengembangan padi hibrida generasi pertama.
”Hibrida-transgenik yang dikembangkan China toleran terhadap serangan serangga,” kata Hongli Zhai, Rabu (6/8), pada Program Pertukaran Petani ASEAN 2020 di Cagayan, Filipina.
Penanaman padi hibrida besar-besaran di China memunculkan berbagai jenis serangga perusak pertumbuhan tanaman padi. Serangan hama penyakit yang berkembang meliputi penggerek batang dan ulat daun.
Serangan hama penyakit pada tanaman padi hibrida menyebabkan hilangnya potensi hasil lebih dari 5 persen atau sekitar 10 juta ton gabah. Produksi gabah di China tahun 1996-2005 rata-rata 195 juta ton.
Mengingat besarnya kerugian akibat serangan serangga dan hama penyakit pada tanaman padi hibrida China, pengembangan padi hibrida-transgenik pun diarahkan untuk menangkal serangan serangga dan hama penyakit itu. Munculah padi hibrida-transgenik yang toleran serangan serangga penggerek.
Rudi Wibowo, Ketua Umum Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia, yang hadir di Cagayan mengatakan, ”Kita pun seharusnya melakukan hal yang sama. Kita harus berpacu dalam meningkatkan produktivitas dan daya saing pangan dan pertanian potensial.”
Hermas E Prabowo, dari Cagayan, Filipina
apa tidak bahaya kalau cina mengembangkan padi hibrida transgenik. dengan penggunaan padi hibrida saja kita membutuhkan aplikasi pupuk dan pestisida yang lebih banyak. apalagi hibrida transgenik itu sudah merusak siklus alam dan kehidupan secara sistematis.
Kalau mau menggunakan benih hibrida ya harus dikawal secara agronomis oleh tim dari produsen benih, jangan cuma jualan doang !! karena banyak kegagalan dilapangan/hasil tidak sesuai harapan, karena kurangnya pemahaman budidaya hibrida.
Komentar ditutup.